Tampilkan postingan dengan label Tausiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tausiah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 September 2016

Kesadaran Berserah Diri

Assalamu'allaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.
Berserah diri adalah  jalan yang terbaik manusia untuk dapat menggapi tujuan hidup dunia dan akhirat, artinya segala sesuatu tentang kehidupan ini di jalani dengan sabar dan iklas, tidak ada sesuatupun yang tidak atas Asma Allah, dan tidak ada sesuatupun yang merasa dimiliki kecuali semua milik Yang Maha Pencipta Allah SWT.
Berserah diri berarti menyerahkan segala sesuatu hanya kepada Allah Ta'ala, dalam arti luas seluruh aktivitas kehidupan yang mencakup  ibadah, hidup dan mati, semua terserah Allah, akan tetapi bukan tidak bergerak dan berupaya apa-apa, justru dengan berserah diri ini menjadi landasan vertikal manusia untuk menjalankan roda kehidupanya atas dasar iman dan ketaqwaannya kepada Yang Maha Esa (Allah). 
Setiap orang mudah mengatakan sikap berserah diri, namun hal ini masih jauh dari konten berserah diri yang sesungguhnya, karena sikap berserah diri seseorang berhubungan erat dengan keadaan kejiwaan/batin serta  keadaan raga/lahir manusia. Pada umumnya manusia sulit untuk mengimplementasikan dikarenakan keadaan dirinya. sebagai contoh jika manusia itu sedang diberikan kemiskinan, tertekan, sakit, lebih mudah berserah diri, sebaliknya manusia yang sedang kaya, berbahagia, sehat badanya, lebih sulit untuk bersikap berserah diri. itulah contoh keadaan manusia di dunia memiliki sifat fitrah dan sifat syaitan. 
Sikap berserah diri kepada Allah merupakan sikap seorang hamba yang bersih secara lahir dan batin, totalitas menyerahkan segala keputusan hidupnya benar-benar begantung kepada Allah. 
Sikap hamba yang berserah diri kepada Allah sbb: 1. Hamba yang berserah diri kepada Allah tidak pernah minta tolong kepada siapapun baik mengenai keadaan hatinya, keadaan hidupnya, keadaan rizkinya, keadaan kekuranganya, keadaan sakit dan penderitaan selama hidupnya, di hanya terus memohon dan meminta kepada Allah dalam setiap situasi dan kondisinya. Hamba tersebut yakin beriman betul bahwa pertolongan Allah pasti datang kepadanya.tidak ada keraguan sedikitpun kepadaNya. 2. Hamba yang berserah diri kepada Allah tidak pernah mengeluh kepada siapa saja,  termasuk anak istri/suami sekalipun, kesulitan, kesukaran, kekurangan, kelebihanya  tetap  hanya disampaikan kepada  Yang Maha Pengasih yaitu Allah Ta'ala, apapun situasi dan kondisi dirinya, hamba ini dipenuhi rasa iklas dan sabar yang sebenarnya dan yakin benar bahwa hanya Allah yang patut dan pantas menyelesaikan segala urusan dunianya.
 
3. Hamba yang berserah diri kepada Allah, selalu bersikap adil dan peduli kepada sesama tanpa padang status manusianya, sikap adilnya di wujudkan kepada semua yang hidup dan yang mati, hewan, tumbuhan, manusia alam dlsb. semua dengan ringan tangan mengulurkan rasa cinta kasih yang sama. perlakuan yang sama, sikap yang sama pula, ada beberapa pertanyaan sikap adil kepad asesama yang kita di tujukan kepada Allah,  pernahkah kita peduli  kepada tanaman yang membutuhkan air? pernahkah kita peduli terhadap kucing yang tidak makan seharian,?pernahkah kita memberi makan burung yang seharian terbang mencari makan buat si kecil anaknya? pernahkah kita peduli kepada sesama kita manusia memberi makanan kita kepada si fakir dan simiskin dalam keadaan kita yang pas-pasan? atau keadaan kita lebih sedikit saja dari apa yang kita punya?  saya kira jawaban itu sulit untuk dapat kita kerjakan di jaman sekarang. sebab apa,,, jaman sekarang banyak manusia menumpuk makanan, harta dan benda, padahal kita setiap saat mengetahui orang-orang yang fakir dan yang miskin, kita sering membusungkan dada, dan tidak memahami bahwa sebenarnya Allah menyuruh kita tidak boleh menunda amal kebaikan yang ada di depan kita, menunpuk menyimpan harta dan kekayaan adalah salah satu sikap riyak, kikir  yang tumbuh dalam diri manusia. oleh sebab itu dengan gambaran di atas sudilah kiranya kita hanya sebagai abdi Allah, Hamba Allah, harus tanggab, harus faham, dan harus memahami sikap hidup berbuat adil , kemudian merealisasikan sifat rahman dan rahim kepada sesama. 
Demikian tanda orang-orang yang berserah diri hanya kepada Allah, baik secara lahir dan batinya selaras dengan kehendak Allah, adakah sifat dan sikap kita menjadi orang yang berserah diri? jawabanya adalah mantap iya.  Untuk selanjutnya para pembaca kami ajak untuk membaca blog kami yang masih berhubungan dengan M'arifatullah yaitu  keuatan dari dalam diri manusia yang berserah diri

TAWAKAL Kunci Kelapangan dan Kekuatan Hati





Seringkali dijumpai dalam firman-Nya, Allah Ta’ala menyandingkan antara tawakal dengan orang-orang yang beriman. Hal ini menandakan bahwa tawakal merupakan perkara yang sangat agung, yang tidak dimiliki kecuali oleh orang-orang mukmin. Bagian dari ibadah hati yang akan membawa pelakunya ke jalan-jalan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Diantara firman-Nya tentang tawakal ketika disandingkan dengan orang-orang beriman, “… dan bertaqwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakal” (QS. Al Ma’idah: 11).
Dan firman-Nya,” Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabla dibacakan ayat-ayatNya kepada mereka, bertambahlah imannya, dan hanya kepada Rabb mereka bertawakal” (QS. Al Anfal : 2).
Tentunya masih banyak ayat lain dalam Al Qur’an yang berisi tentang tawakal, demikian pula sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun apakah itu sebenarnya tawakal? Pada pembahasan selanjutnya akan dibahas lebih terperinci mengenai tawakal.

Definisi tawakal
Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hakikat tawakal adalah hati benar-benar bergantung kepada Allah dalam rangka memperoleh maslahat (hal-hal yang baik) dan menolak mudhorot (hal-hal yang buruk) dari urusan-urusan dunia dan akhirat”
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Tawakal adalah menyandarkan permasalahan kepada Allah dalam mengupayakan yang dicari dan menolak apa-apa yang tidak disenangi, disertai percaya penuh kepada Allah Ta’ala dan menempuh sebab (sebab adalah upaya dan aktifitas yang dilakukan untuk meraih tujuan) yang diizinkan syari’at.”

Tawakal Bukan Pasrah Tanpa Usaha
Dari definisi sebelumnya para ulama menjelaskan bahwa tawakal harus dibangun di atas dua hal pokok yaitu bersandarnya hati kepada Allah dan mengupayakan sebab yang dihalalkan. Orang berupaya menempuh sebab saja namun tidak bersandar kepada Allah, maka berarti ia cacat imannya. Adapun orang yang bersandar kepada Allah namun tidak berusaha menempuh sebab yang dihalalkan, maka ia berarti cacat akalnya.
Tawakal bukanlah pasrah tanpa berusaha, namun harus disertai ikhtiyar/usaha. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan contoh tawakal yang disertai usaha yang memperjelas bahwa tawakal tidak lepas dari ikhtiyar dan penyandaran diri kepada Allah.
Dari Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 310)
Tidak kita temukan seekor burung diam saja dan mengharap makanan datang sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan permisalan ini, jelas sekali bahwa seekor burung pergi untuk mencari makan, namun seekor burung keluar mencari makan disertai keyakinan akan rizki Allah, maka Allah Ta’ala pun memberikan rizkiNya atas usahanya tersebut.

Syarat-Syarat Tawakal
Untuk mewujudkan tawakal yang benar dan ikhlas diperlukan syarat-syarat. Syarat-syarat ini wajib dipenuhi untuk mewujudkan semua yang telah Allah janjikan. Para ulama menyampaikan empat syarat terwujudnya sikap tawakal yang benar, yaitu:

1. Bertawakal hanya kepada Allah saja. Allah berfirman: “Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Rabb-mu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Huud: 123).

2. Berkeyakinan yang kuat bahwa Allah Maha mampu mewujudkan semua permintaan dan kebutuhan hamba-hamba-Nya dan semua yang didapatkan hamba hanyalah dengan pengaturan dan kehendak Allah. Allah berfirman,“Mengapa kami tidak bertawakal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal itu berserah diri.” (QS. Ibrahim: 12).

3. Yakin bahwa Allah akan merealisasikan apa yang di-tawakal-kan seorang hamba apabila ia mengikhlaskan niatnya dan menghadap kepada Allah dengan hatinya. Allah berfirman, “Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.“ (QS. Ath-Thalaq: 3).

4. Tidak putus asa dan patah hati dalam semua usaha yang dilakukan hamba dalam memenuhi kebutuhannya dengan tetap menyerahkan semua urusannya kepada Allah. Allah berfirman, “Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah, ‘Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Rabb yang memiliki ‘Arsy yang agung.’”(QS. At-taubah: 129).

Apabila seorang hamba bertawakal kepada Allah dengan benar-benar ikhlas dan terus mengingat keagungan Allah, maka hati dan akalnya serta seluruh kekuatannya akan semakin kuat mendorongnya untuk melakukan semua amalan. Dengan besarnya tawakal kepada Allah akan memberikan keyakinan yang besar sekali bahkan membuahkan kekuatan yang luar biasa dalam menghadapi tantangan dan ujian yang berat. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan apabila Allah menimpakan kepadamu suatu bahaya maka tidak ada yang bisa menyingkapnya selain Dia, dan apabila Dia menghendaki kebaikan bagimu maka tidak ada yang bisa menolak keutamaan dari-Nya. Allah timpakan musibah kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 107)

Dengan mendasarkan diri pada keyakinan bahwa hanya Allah saja yang dapat memberikan kemudharatan maka seorang mukmin tidak akan gentar dan takut terhadap tantangan dan ujian yang melanda, seberapapun besarnya, karena dia yakin bahwa Allah akan menolong hambaNya yang berusaha dan menyandarkan hatinya hanya kepada Allah. Dengan keyakinan yang kuat seperti inilah muncul mujahid-mujahid besar dan ulama-ulama pembela agama Islam yang senantiasa teguh di atas agama Islam walaupun menghadapi ujian yang besar, bahkan mereka rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk agama Islam.

Tawakal yang sebenarnya kepada Allah Ta’ala akan menjadikan hati seorang mukmin ridha kepada segala ketentuan dan takdir Allah, yang ini merupakan ciri utama orang yang telah merasakan kemanisan dan kesempurnaan iman. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Akan merasakan kelezatan/kemanisan iman, orang yang ridha dengan Allah Ta’ala sebagai Rabb-nya dan islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasulnya”

Setiap hari, dalam setiap sholat, bahkan dalam setiap raka’at sholat kita selalu membaca ayat yang mulia, ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’; hanya kepada-Mu ya Allah kami beribadah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan… Oleh sebab itu bagi seorang mukmin, tempat menggantungkan hati dan puncak harapannya adalah Allah semata, bukan selain-Nya. Kepada Allah lah kita serahkan seluruh urusan kita.
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan kepada Allah saja hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar beriman.” (QS. al-Ma’idah: 23). Ayat yang mulia ini menunjukkan kewajiban menyandarkan hati semata-mata kepada Allah, karena tawakal adalah termasuk ibadah.

Tawakal yang Salah
Kesalahan dalam memahami dan mengamalkan tawakal akan menyebabkan rusaknya iman dan bisa menyebabkan terjadi kesalahan fatal dalam agama, bahkan bisa terjerumus dalam kesyirikan, baik syirik akbar (syirik besar) maupun syirik asghar (syirik kecil). Adapun kesalahan dalam tawakal yang menyebabkan terjerumus dalam syirik akbar adalah seseorang bertawakal kepada selain Allah, dalam perkara yang hanya mampu diwujudkan oleh Allah. Misalnya: bertawakal kepada makhluk dalam perkara kesehatan, bersandar kepada makhluk agar dosa-dosanya diampuni atau bertawakal kepada makhluk dalam kebaikan di akhirat atau bertawakal dalam meminta anak sebagaimana yang dilakukan para penyembah kubur wali.
Adapus jenis tawakal yang termasuk dalam syirik asghar adalah bertawakal kepada selain Allah yang Allah memberikan kemampuan kepada makhluk untuk memenuhinya. Misalnya: bertawakalnya seorang istri kepada suami dalam nafkahnya, bertawakalnya seorang karyawan kepada atasannya. Termasuk dalam syirik akbar maupun asghar keduanya merupakan dosa besar yang tidak akan terampuni selama pelakunya tidak bertaubat darinya.

Penutup
Ini semua menunjukkan kepada kita bahwa kesempurnaan iman dan tauhid seorang hamba ditentukan oleh sejauh mana ketergantungan hatinya kepada Allah semata dan upayanya dalam menolak segala sesembahan dan tempat berlindung selain-Nya. Jika kita yakin bahwa Allah ta’ala yang menguasai hidup dan mati kita, mengapa kita menyandarkan hati kita kepada makhluk yang lemah yang tidak bisa memberikan manfaat dan mudharat kepada kita?

Sulitnya Memaafkan

Sulit untuk mengatakan bahwa Allah akan memaafkan dosa Anda sebelum Anda meminta maaf kepada orang itu, karena hal itu terkait dengan hak sesama manusia. Sebab, salah satu syarat untuk diterimanya tobat dan memperoleh ampunan Allah adalah memperoleh kehalalan dan kerelaan orang yang bersangkutan jika dosa itu menyangkut hak sesama manusia. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda,  
"Barang siapa telah melakukan kezaliman kepada saudaranya, baik menyangkut harga diri/ kehormatan atau harta, maka pada hari ini hendaklah ia meminta dibebaskan (dihalalkan) sebelum datang hari di mana tidak berguna lagi dinar dan dirham. Apabila (orang yang berbuat zalim itu) mempunyai amal kebaikan/ kesalihan, maka kesalihannya akan diambil untuk saudaranya sebesar kezalimannya kepadanya. Dan apabila ia tidak mempunyai amal kebaikan, maka dosa amal buruk saudaranya itu akan ditimpakan kepadanya.” (HR Bukhari).

Dalam riwayat lain yang semakna, Rasulullah saw. bersabda, "Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang pada hari Kiamat datang membawa amalan shalatnya, puasanya, dan zakatnya. Pada saat yang sama, ia juga membawa dosa mencaci si fulan, membunuh si fulan, memakan harta si fulan. Pahala kebaikan-kebaikannya lalu diambil untuk diberikan kepada si fulan, si fulan, dan si fulan. Apabila kebaikannya habis sebelum dosanya tertebus, akan diambilkan dari kesalahan orang-orang yang terzalimi itu untuk ditimpakan kepadanya lalu ia dimasukkan ke dalam neraka.” (HR Muslim).

Memang sangat berat untuk meminta maaf atau minta dibebaskan (dihalalkan) dari dosa kesalahan Anda, apalagi kalau hal itu dapat menimbulkan efek hukum. Tetapi hukuman di akhirat jauh lebih berat. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana sulitnya kalau di akhirat nanti orang itu tidak mau memaafkan Anda. Jika terasa berat sekali untuk mengakui kesalahan-kesalahan secara detail, mintalah maaf secara umum. Lalu mohonlah ampunan kepada Allah sebanyak-banyaknya, dan perbanyaklah perbuatan baik.

Hemat saya, jika Anda meminta maaf dengan cara yang baik-baik, mengakui kesalahan Anda, dan itu Anda lakukan semata-mata karena Allah dan takut hukuman yang lebih berat di akhirat nanti, kemungkinan besar orang itu justru akan memaafkan Anda.
Wallahu aâlam.

Saatnya Move On

Mungkin moment postingan ini tepat, karena puasa Ramadhan sudah dekat beberapa minggu lagi, Bulan puasa adalah suatu tahap dimana kita ditempa, digodok,  untuk menjadi insan manusia yang berbudi pekerti luhur. Kita disuruh untuk menahan semua hal negatif dari diri kita. Tidak hanya nafsu makan minum, tapi juga nafsu lainnya. Yang kebiasaan melototin cewek harus belajar lebih sopan melihatnya, jaga pandangan kita. Yang sering ngegosip #LOL coba deh ditahan dulu, gak usah ngomongin keburukan orang lain apalagi mencampuri (dapur) rumah tangga orang. Coba isi bulan ini dengan berbagai hal yang positif. Untuk apa sih kita melakukan hal-hal positif tersebut dibulan Ramadhan? Ketika kita istiqomah melakukan hal baik, maka kebiasaan itu akan mengiringi kita setelah keluar bulan Ramadhan. Sungguh berat menyempurkan ibadah di bulan Ramadhan, kenapa? Karena terkadang kita hanya bisa menahan makan minum aja, tetapi hal-hal seperti diatas kadang sering khilaf. Untuk itu niat kita harus dirubah. Niat ingin menjadi orang terbaik yang bisa kita lakukan.
Cobaan dan ujian kadang juga menghampiri kita saat bulan suci ini. Ujian yang sejatinya adalah untuk menguatkan diri kita. Memiliki pribadi yang baik adalah sebuah pilihan. Pilihan yang tidak hanya sekedar memilih tapi pilihan yang penuh perjuangan. Perjuangan yang kadang nikmatnya belum tentu kita rasakan saat di dunia tapi mungkin nanti saat di akherat. Tetapi ada juga orang yang telah diberikan kenikmatan tersebut saat di dunia.
Ujian akan datang tanpa disangka-sangka, hal ini bukti Allah sayang pada umatnya. Ketika kita lengah untuk mengingat-Nya, ujian inilah cara Allah mengingatkan kita. “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang beriman bersamanya: “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat” (QS. Al-Baqarah: 214).
Beberapa hari lalu sebuah ujian mendatangi saya. Ujian yang tidak mungkin diceritakan disini. Tapi singkatnya hati dan pikiran menjadi bingung tidak karuan dan karena ketidaksabaran saya dan kurangnya ikhlas berujung pada ujian berikutnya. Hubungan dengan seseorang yang sangat berarti bagi saya dan telah terjalin lama serta serius ingin menuju ke jenjang selanjutnya harus lebur. Memang benar adanya bahwa manusia hanyalah bisa berusaha dan Allah lah yang menentukan segalanya. Begitu terpukulnya saya saat itu, tetapi Allah memberikan petunjuk kepada saya dengan cara-cara-Nya, Alhamdulillah perlahan tapi pasti saya bisa menerima (meskipun susah) keputusan ini. Tanpa disadari sebenarnya ada hikmah dari ujian ini. Saya akhirnya tahu bagaimana kehidupan itu, bagaimana menyikapinya, dan bagaimana mengolahnya. Saya akhirnya juga tahu bahwa masih banyak perbuatan saya yang perlu diperbaiki, untuk menjadi insan manusia yang lebih baik, dan berguna untuk orang lain. Dan yang tidak kalah pentingnya, sesuai “teori” umum bahwa tulang rusuk seseorang tidak pernah tertukar *cieee*. Jadi, kalau seseorang itu adalah jodoh kita dan kita yakin seseorang itu adalah orang terbaik untuk kita (dengan petunjuk Allah) kemudian kita berusaha untuk mendapatkannya lagi, pasti dan yakinlah ada jalan untuk bersatu lagi. Karena perpisahan dan pertemuan hanya Allah yang bisa mengatur.
Satu kunci sebenarnya yang menjadi pokok kita menghadapi ujian, yaitu IKHLAS. Dengan keikhlasan, hati ini akan tenang dan petunjuk-petunjuk Allah akan dengan mudah kita terima. Karena pada dasarnya Allah sayang pada kita semua, tetapi karena kita lebih memilih mengikuti syetan, maka pertolongan Allah seakan “sulit” kita terima. Selain itu, mari kita belajar untuk tidak bersedih dengan apapun keadaan kita. Kata orang jika rencana A gagal, tetaplah semangat karena masih ada 25 huruf alfabet lainnya. Hehe *stay cool*
Hidup adalah sebuah perjalanan yang bermuara pada pencarian keridhoan-Nya. Apapun yang kita lakukan harusnya bermuara kesitu. Berbagai pencapain kita berupa karir, prestasi, dan sebagainya apapun bentuknya harus kita nikmati dan syukuri. Karena dengan syukur, Insya Allah kita akan diberikan oleh Allah kenikmatan yang lebih baik. Contohnya begini, ada dua orang mahasiswa baru, yang satu sangat bersyukur kuliah di jurusan itu, sedang yang satunya tidak mensyukurinya, mungkin karena jurusan itu adalah jurusan “tersasar” menurutnya. Dengan syukur pastinya orang tersebut akan senang mengikuti perkuliahan. Kita pasti tahu senang akan membawa kesegaran pikiran dan hati. Dengan begitu ilmu-ilmu yang didapat mudah terserap. Bandingkan dengan orang satunya yang tidak bersyukur, pastinya dalam pikirannya sumpek, gelisah, galau dan apalah itu. Dengan kondisi seperti ini sulit sekali ilmu tersebut bisa diterima orang tersebut.
Oleh karena itu, mari kita move on untuk menjadi manusia lebih baik dan berguna bagi lingkungan di sekitar kita

Kapal Nabi Nuh Berasal Dari Tanah Jawa

MetroIslam.com – Kurang lebih 67 tahun silam, dunia arkeologi digemparkan oleh penemuan situs Kapal Nabi Nuh di atas pegunungan Ararat-Turki, yang diperkirakan panjangnya mencapai 150 meter.
Kegemparan serupa kembali terjadi pada saat satelit observasi AS, Ikonos, berhasil melakukan seri pemotretan yang memperlihatkan adanya kapal purba di gunung Ararat yang tertutup salju, tepatnya pada tahun 2000, atau 16 tahun lalu.

Hal paling mengejutkan setelah itu semua, adalah terkuaknya jawaban atas dua pertanyaan penting. Pertama, dari mana kapal Nabi Nuh itu berangkat? Kedua, dimana kapal Nabi Nuh itu dibuat?
Belum lama ini, gabungan peneliti yang terdiri dari para arkeolog dan antropolog China dan Turki yang beranggotakan 15 orang ternyata telah menemukan bukti baru yang mencengangkan.
Setelah mengumpulkan artefak dan fosil berupa serpihan kayu kapal, tambang dan paku, disusul kemudian dengan serangkaian uji materi fosil kayu tersebut oleh tim ahli tanaman purba, maka didapatlah bukti mengejutkan bahwa fosil kayu Kapal Nabi Nuh tersebut terbuat dari kayu jati yang di zaman itu dipastikan hanya tumbuh di Pulau Jawa.
Bukti akurat itu didapat setelah tim ini rampung meneliti ratusan sampel kayu purba dari berbagai negara, dan memastikan bahwa fosil kayu jati yang berasal dari tanah Jawa, tepatnya Jawa Timur dan Jawa Tengah, ternyata 100 persen cocok dengan sampel fosil kayu Kapal Nabi Nuh. Hal ini seperti diungkapkan 6 tahun lalu oleh Yeung Wing (pembuat film dokumenter The Noah’s Ark), dalam konferensi pers yang digelarnya di Hongkong.
“Saya yakin 99 persen, bahwa situs kapal di Gunung Ararat, Turki, tak lain adalah fosil Kapal Nabi Nuh yang ribuan tahun silam terdampar di puncak gunung itu, pasca banjir besar yang menenggelamkan dunia dalam peristiwa mencairnya gleiser di kedua kutub,” tegas Yeung Wing.
Sementara peneliti lain dari National Turk, Dr. Mehmet Salih Bayraktutan PhD, yang turut meneliti dan mempopulerkan situs Kapal Nabi Nuh mengatakan bahwa perahu itu adalah struktur yang dibuat oleh tangan manusia dan kemudian terdampar di Gunung Judi (Ararat) sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an Surah Hud ayat 44, dan dalam Injil (Genesis 8: 4), disebutkan terdampar di atas Gunung Ararat.
Penelitian The Noah’s Ark selanjutnya menyebutkan bahwa kapal besar itu dibuat di puncak gunung tak jauh dari desanya oleh Nabi Nuh, sebelum akhirnya berlayar tak tentu arah saat dunia ditenggelamkan banjir besar. Akhirnya, baru disadari setelah berbulan-bulan kemudian, ternyata kapal itu telah merapat di sebuah daratan asing, yang tanpa diduga dan baru diketahui setelah banjir surut, merupakan puncak sebuah gunung di negeri jauh.
Bukti bahwa fosil kayu kapal Nabi Nuh berupa kayu jati, sementara kayu jati itu hanya tumbuh di Nusantara pada zaman purba hingga saat ini, bukankah logis jika para peneliti yakin bahwa Nabi Nuh dan umatnya pada masanya memang pernah tinggal di Nusantara, khususnya di tanah Jawa?
Apalagi bila kita tahu bahwa data sejarah telah menyebutkan bahwa gugusan ribuan pulau Nusantara yang saat ini terpisah oleh laut, konon pada awalnya merupakan daratan luas yang menyatu.
Tak hanya sampai di situ, Dr. Bill Shea, seorang antropolog, juga menemukan bukti-bukti pendukung berupa pecahan-pecahan tembikar sekitar 18 meter dari situs kapal Nabi Nuh tersebut. Tembikar ini bercorak ukiran burung, ikan dan manusia yang sedang memegang palu dengan hiasan kepala bertuliskan “Nuh”. Kuat dugaan bahwa sejak zaman kuno, barang-barang tersebut sengaja dibuat oleh penduduk lokal di desa kediaman Nabi Nuh untuk dijual kepada para pendatang dari negeri lain yang berkunjung ke desa mereka.
Sedangkan di sisi lain, seperti telah kita ketahui melalui tulisan Benarkah Sembahyang Leluhur Nusantara Mirip Shalat?  bukankah corak keagamaan bangsa Nusantara pun, diketahui sangat kental dengan nilai-nilai tauhid dan penyembahan kepada Sang Hyang Tunggal atau Sang Hyang Taya sejak dahulu kala?
Ditambah lagi dengan bukti tambahan, seperti telah diungkapkan dalam tulisan sebelumnya; Genealogi Membuktikan, Ternyata Kita Keturunan Nabi Nuh, bukankah kajian ilmu nasab (genealogi) itu pun berdasarkan penelitian dan penelusuran jejak kromosom DNA telah membuktikan bahwa bangsa Nusantara tak lain merupakan keturunan Nabi Nuh?
Source: www.islamindonesia.id Melalui http://metroislam.com/

Postingan Populer